Modal Keterampilan yang Simpel untuk Abad 21

Abad 21 menjadikan pendidik dan peserta didik harus siap mempersiapkan dan menghadapi Era komples. Era yang wajib diperhatikan untuk membuat cita-cita bangsa menjadi nyata. Melalui pembelajaran yang dilakukan di bangku pendidikan.

Saya mahasiswi yang telah dan sedang mengalami sepak terjang dunia pendidikan sebagai mahasiswa dan calon pendidik, telahmemahami beberapa kurikulum dunia pendidikan yang saat ini dilaksanakan di dunia pendidikan tingkat dasar. Sejak saat itu, saya mulai sedikit demi sedikit peka bahwa untuk mencerdaskan bangsa di tingkat pendidikan sungguh membutuhkan persiapan yang banyak dari seorang guru yang berdiri di kelas. Tidak hanya bertindak menyampaikan materi dan membuat peserta didik mengerjakan soal. Namun, harus bisa “memancing” keaktifan peserta didik.

Pengembangan abad 21 dianut oleh masyarakat dunia. Dan telah ditelaah definisinya dan ‘diandaikan’ keterampilan yang harus dimiliki untuk bisa berhasil dan mampu bertahan dalam pekerjaannya, kehidupan dan kewarganegaraan, dan sistem yang diperlukan untuk mendayagunakan potensi peserta didik saat ini untuk  abad 21. Peserta didik yang dipersiapkan untuk abad 21 ini akan berfokus pada ketermapilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kreativitas dan inovasi, komunikasi, dan kolaborasi.  Menurut Trilling dan Fadel, 2008. “ Kemampuan berpikir kreatif dan memecahkan masalah, sebagai salah satu orientasi pembelajaran modern secara lebnih luas akan membekali siswa dengan keterampilan lainnya yang lebih kecil yang melingkupinya. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan menggunakan berbagai alasan secara efektif, kemampuan berpikir secara sistematik, kemampuan mempertimbangkan dan membuat keputusan, dan keterampilan membuat masalah. Keterampilan berkomunikasi dan berkolaburasi dimaksudkan untuk membekali siswa agar mampu berkomunikasi untuk berbagai tujuan secara jelas dan efektif. Baik dalam hal berbicara, menulis maupun menyimak dan membekali siswa agar mampu berkolaborasi dengan orang lain, negoisasi secara efektif dan mampu menghargai peran orang lain dalam kelompoknya. Kemampuan berpikir kreatif dan berinovasi dimaksudkan untuk membekali siswa agar mampu berpikir kreatif, bekerja kreatif dengan orang lain dan mampu menghasilkan.

Kurikulum 2013 yang dipedomani oleh para peserta didik, pendidik dan seluruh staff pendidikan memilliki beberapa konsep pembelajaran yang mengembangkan potensi dan mengembangkan karakter peserta didik sebagai hasil sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah ataupun di luar sekolah (keluarga dan masyarakat). Dengan berkembangnya potensi ini diharapkan peserta didik memiliki sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. (lengkapnya lihat di Permendikbud No. 104 tahun 2014 tentang Pembelajaran).

Pola pembelajaran di Kurikulum 2013 mengembangkan pembelajaran yang menitik-beratkan pada pengalaman belajar peserta didik. Pada kurikulum ini Pendekatan saintifik diterapkan dengan memusatkan pembelajaran pada peserta didik. Tahapan untuk memberikan pengalaman belaajar pada peserta didik terdapat dalam Permendikbud No. 103 Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2014, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Pembelajaran dengan Kurikulum 2013 memiliki kekuatan positif apabila dijalani dengan baik untuk mempersiapkan keberhasilan abad ke 21. Walaupun terdapat satu point yang kurang menurut saya, yaitu KolaborasiWalaupun Pembelajaran dengan Kurikulum 2013 memiliki orientasi terhadap usaha-usaha penyiapan lahirnya Generasi Emas 2045. Ada beberapa keterampilan yang dianggap mendesak namun masih minim melekat pada diri peserta didik.

 

Pertama, berkomunikasi. Berkomunikasi merupakan proses mentransfer informasi baik secara verbal maupun nonverbal. Keterampilan abad 21 yang harus dilatih ini masih minim terapkan di SMP. Beberapa wawancara yang saya lakukan terhadap guru IPA SMP, megatakan bahwa untuk memancing siswa untuk berkata atau mengungkapkan apa yang peserta didik ketahui amat sulit untuk sekadar bertanya apa yang belum di pahami, atau menjawab pertanyaan dari apa yang guru tersebut tanyakan secara spontan, ketika pembelajaran berlangsung. Sebenarnya peserta didik memahami apa yang ditanyakan dan dapat menjawab pertanyaan secara tulisan. Namun ketika ditanyakan secara lisan. Hanya segelintir peserta didik yang mengungkapkan gagasannya. Hal ini membuktikan bahwa keterampilan ini harus dilatih secara terus menerus sampai peserta didik merasakan berkomunikasi dalam hal ini bertanya atau menjawab pertanyaan adalah hal yang biasa dan bukan suatu yang menyeramkan atau bisa membuat rasa percaya diri peserta didik jatuh karena menahan malu.

Selain itu, berkomunikasi bisa dilakukan secara nonverbal yaitu dengan tulisan. Komunikasi yang abadi atau bisa turun temurun terdokumentasikan adalah dengan tulisan. Berkomunikasi dengan tulisan ini sangat menuntut peserta didik untuk mengembangkan literasi sains. Literasi sains (PISA) merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan dan kemampuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dan data-data yang ada agar dapat memahami dan membantu peneliti untuk mebuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alamnya. Keterampilan secara nonverbal ini juga sebaiknya terus-menurus di asah. Karena sangat berguna untuk menjadi masyarakat yang benar-benar kritis kedepannya dan tidak termakan berita bohong, hoax.

Kedua, Kolaborasi, proses berpikir dan bekerjasma antar teman atau masyarakat untuk mememukan solusi. Kurang lebih 15 tahun duduk di bangku pendidikan Indonesia. Ada beberapa keterampilan yang masih sampai saat ini digali yaitu keterampilan berkomunikasi dan keterampilan berkolaborasi. Keterampilan komunikasi yang minim dan tingkat berkolaborasi yang rendah. Ini mungkin sebagai gambaran yang pernah dialami seorang peserta didik. Dan kompleksnya dalam hal ini bisa diketahui dalam keseharian. Ketika seorang peserta didik masuk ke bangku Perguruan Tinggi, dari pembelajaran yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada mahasiswa. Sebagai gambaran ketika mengerjakan tugas. Berapa banyak mahasiswa yang memiliki kesibukan masing-masing diluar kelas sehingga pikiran masih terpecah ketika berkomunikasi bahkan berkolaborasi di dalam kelas ataupun diluar kelas. Seperti yang dialami beberapa mahasiswa yang makan hati ketika mengerjakan serangkaian tugas yang membutuhkan pemikiran, proses pengerjaan, analisis sampai keputusan yang dilakukan bersama dalam kelompok, namun dilakukan sendiri. Belum lagi ada pemikiran bahwa, mengerjakan bersama teman sekelompok akan menghabiskan waktu lama sehingga lebih baik dikerjakan sendiri dalam kategori disini egois. Bisa juga seorang peserta didik berpikiran teman yang diajak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi, terlalu lemah atau tidak selalu tidak sependapat yang membuat teman yang lain merasa malas atau bahkan sakit hati. Berangkat dari pengalaman pribadi yang pahit ini sekarang saya mendapatkan jawaban bahwa hal tersebut adalah produk kurikulum pembelajaran. Pemusatan belajar pada guru ketika di bangku SD sampai SMA ini menyebabkan keaktifan peserta didik minim dan sikap individualis meningkat. Pembiasaan untuk berkomunikasi dan berkolaburasi tidak serta merta instan didapat dan dikuasai peserta didik. Untuk memunculkan keterampilan berkomunikasi dan kolaborasi yang baik, semua harus bersinergi. Harus beradaptasi dengan perencanaan dan pembelajaran yang mendukung untuk memunculkan keterampilan tersebut. Namun semua itu tergantung pada pula pada guru dalam mengelola kelas.

Jika kedua keterampilan diatas sudah dimiliki peserta didik. Inovasi dan kreativitas peserta didik, tidak hanya bisa dimiliki oleh beberapa peserta didik saja yang mampu dan memiliki kelebihan maik materil maupun moril. Namun, semua saling bahu-membahu mewujudkan inovasi dan kreativitas yang maksimal untuk bekerja dan hidup di abad 21. Selain itu, diharapkan guru memiliki keahlian untuk memfasilitasi peserta didik berkreasi dan berinovasi.

Mengutip pada buku Democracy and Education, karya John Dewey, 1916. Dalam buku mengatakan bahwa “Kelas merupakan cermin masyarakatdan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata”.

Gambaran Peserta didik dikelas saat ini merupakan cerminan untuk hidup di masyarakat beberapa tahun mendatang. Besar harapan calon pendidik untuk bisa ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, terlebih di Era Kompleksitas yang tinggi yaitu abad 21.

Modal Keterampilan SMP yang dibutuhkan saat ini, sudah termaktub dalam Kurikulum 2013. Besar kemungkinan dalam menghadapi Abad-21, baik pendidik maupun peserta didik bisa memahami dan menjalankan tahapan-tahapan yang terdapat pada Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Modal Keterampilan yang Simpel untuk Abad 21 ada di Kurikulum 2013.

Iklan